sastra dan psikologi

SM, Selasa Pahing, 22 Oktober 1985 ANTARA SASTRA DAN PSIKOLOGI Sastra dan psikologi biasanya tidak diajarkan bersama-sama. Namun demikian, kedua-duanya saling menerangi dan membantu, dan dianggap sebagai tak terpisahkan. Lebih dari tiga atau empat generasi perkembangan spesialisasi akademis dan klinis yang pesat telah memisahkan kedua ‘discipline’ tersebut. Sampai akhir abad 19 hampir semua yang dikenal dalam psikologi manusia tidak terdapat pada laporan-laporan klinis, tetapi terdapat pada karyakarya sastra yang terkenal. Abad Renaissance telah mendorong manusia untuk mempelajari dirinya sendiri. Sebelum Frued, Shakespeare dianggap sebagai ahli psikologi yang terbesar. Schlegel, seorang sarjana dari Jerman, menulis tentang Shakespeare sebagai berikut: “Dari semua penyair, mungkin dia sendiri yang telah memotret penyakit-penyakit jiwa….dengan kebenaran yang begitu pasti dan tidak bisa dinyatakan dengan kata-kata dalam setiap aspek sehingga para dokter bisa memperkaya observasinya dari karya-karya Shakespeare dengan cara yang sama seperti dalam kasus-kasus nyata” Suatu usaha yang luar biasa tentang analisa diri dan suatu pertanda munculnya Frued adalah puisi Wordsworth The Perlude, pertama kali diterbitkan pada tahun 1805. Wordsworth tidak menyangkal bahwa kebanyakan isi puisi tersebut merupakan kenangan pada masa kanak-kanak. Namun demikian, pada karya ini dan karya-karya lainnya bertema keterasingan, perasaan terbuang, depresi, perasaan dihantui, menyatunya dengan alam, kerinduan akan paradiso yang telah hilang, dan permusuhan, sangat mirip dengan karya-karya psikoanalisis saat ini seperti seperti John Bowlby dan Sylvia Anthony yang telah membuat riset mengenai ‘kehilangan’ masa kanak-kanak. Sylvia Anthony, yang menunjuk bahwa Wordsworth kehilangan ibunya pada umur 7 tahun dan menderita ‘broken home’, memberi ilustrasi betapa pentingnya Wordsworth dalam psikologi pada saat ini. Dia menunjuk puisi “We ae seven”. “What is here most striking to the psychologist today is the attitude of an adult who seeks not to teach the child but to learn what and how the child himself is thinking.” (Apa yang paling mengesankan bagi psikolog dewasa ini adalah sikap orang dewasa yang selalu berusaha untuk tidak mengajar anak-anak tetapi mempelajari apa dan bagaimana anak-anak itu sendiri). Psikolog tidak bisa mengingkari, pengarang mempunyai pandangan yang luar biasa tentang sifat manusia dan kemampuan yang jarang bandingannya untuk menggambarkan keadaan yang kompleks dalam diri manusia. Meskipun demikian, psikolog tidak sepenuhnya menghargai banyak karya sastra yang ditawarkan kepada mereka, terutama dalam mempelajari masa kanak-kanak danakibat-akibat perpecahan keluarga. Dalam bukunya Children Under Struss, Sula Wolf menegaskan betapa sukarnya untuk mempelajari tentang kehilangan masa kanak-kanak (early bereavement). Mengingat ketidak tahuan mereka mengenai early bereavement , dan masalah-masalah manusia yang lain, para psikolog berusaha mengadakan pengamatan yang lebih dekat dan sistimatis pada karya-karya pengarang. Sejumlah pengarang termasuk penyair-penyair besar jaman romantis sudah menjadi yatim piatu pada masa kanak-kanak dan banyak yang mengalami perpecahan keluarga. Beberapa karya mereka yang terbaik berfokus pada masalah kehilangan masa kanak-kanak (early bereavement) dan akibatakibatnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang awam tidak bisa mengungkapkan akibat-akibat pergolakan dalam keluarga. Pengarang kadangkadang menghabiskan masa hidupnya untuk mencari cara-cara bagaimana mengungkap pengalaman masa kecil yang traumatis. Bagi psikolog yang mengabaikan usaha mereka –dan usaha para seniman yang lain-tidaklah bijaksana dan fair. Sastra Lebih mampu Banyak karya sastra yang terbaik menggambarkan masalah-masalah yang selalu kita hadapi tiap hari: perpecahan keluarga, ikatan-ikatan yang cacaad dalam keluarga, ketidak stabilan dan gangguan psikologis, kematian, kemandulan dan hari tua. Kemampuan pengarang untuk melukiskan masalahmasalah semacam itu jauh lebih besar daripada kemampuan psikolog yang sudah sangat terlatih sekalipun. Seniman sejati memungkinkan kita untuk merasuk dunianya atau dunia para pelakunya. Dalam hal ini laporan-laporan klinis tidak bisa melakukannya. Dulu bahasa klinis sangat terbatas dalam melukiskan orang-orang yang mendapat gangguan dan kadang-kadang bahasanya tidak sensitif. Bagaimanapun juga, sepanjang kesusastraan bisa dimanfaatkan secara serius dalam penelitian psikologis, penelitian psikologis pun sangat penting dalam penelitian sastra. Para kritisi sering menunjuk ke teori-teori dan penemuan psikologis . kesusastraan besar telah tumbuh dimana prosa dan posisi kreatif dipandang dari sudut psikologis, sering juga menggunakan bahan-bahan biografis. Namun demikian, seperti The Wound and The Bow karangan Edmund Wilson dan The Savage God oleh Alfred Alvarez, kritik sastra seperti yang ada sekarang penggunaannya terbatas pada orang-orang yang berminat untuk mempelajari tema sastra dilihat dari pandangan psikologis. Banyak kritik sastra psikologis yang dikerjakan secara serampangan sehingga gagal untuk memperjelas bacaan sastranya danterlalu bersandar pada ‘jargon’ yang terlalu berat, keduanya kritik sastra dan psikologi. Sebagai penutup, alangkah baiknya kalau para kritisi sastra mengadakan suatu proyek yakni mengumpulkan karya-karya sastra, masing-masing mengenai tema khusus, seperti kehilangan masa kanak-kanak. Masing-masing karya berisi contoh-contoh yang telah dipilih dengan baik dari karya sastra dunia yang melukiskan tema tersebut. Introduksi dan komentar sebaiknya dimasukkan. Kumpulan-kumpulan yang sudah diedit akan bermanfaat besar bagi mahasiswa psikologi dan juga mahasiswa sastra. Perlu ditingkatkan juga kerjasama antara kritisi sastra dan psikolog yaitu para kritisi sastra menggunakan secara penuh penemuan psikolog dan sebaliknya psikolog juga memanfaatka karya sastra kreatif. Dimuat di koran Suar Merdeka, Selasa Pahing, 22 Oktober 1985